Mengenal Istilah Peneng, Pajak Sepeda Zaman Dulu – Kabar bahwa pemerintah akan mengeluarkan regulasi tentang pajak sepeda telah “mengganggu” tren pertumbuhan bersepeda. Meski belakangan Kementerian Perhubungan membantah kabar tersebut.

Mengenal Istilah Peneng, Pajak Sepeda Zaman Dulu

 Baca Juga : Mengenal Awal Mula Sepeda Dengan Desain Yang Memperhatikan Keamanan

vintagebicyclepress – Kementerian Perhubungan menyatakan regulasi yang sedang disusun tidak ada kaitannya dengan pajak sepeda. Namun untuk menunjang keselamatan pengendara sepeda. Pasalnya, di era baru yang normal, banyak orang yang menggunakan sepeda sebagai alat transportasi. “Kementerian Perhubungan sedang merumuskan regulasi terkait pajak sepeda yang tidak benar.

Jika menengok ke belakang, regulasi pajak sepeda sudah diterapkan puluhan tahun. Keduanya masih di era penjajahan Belanda, kemudian terus berkembang setelah Indonesia merdeka.

1. Pajak sepeda diberi nama Peneng

Cerita peneng ini dikisahkan guru Fakultas Medis Universitas Indonesia, Sabda Lubis dalam memoarnya yang bertajuk Jakarta 1950- an: Ingatan Ketika Anak muda. Dalam novel itu Sabda menceritakan pengalamannya mengemudikan sepeda di Jakarta pada tahun 1950- an.

Bagi Sabda tiap owner alat transportasi cakra 2 yang dikayuh itu harus membayarkan pajak sepeda yang diberi julukan peneng.” Banyak orang paling utama kanak- kanak sekolah, mengantri dengan sepedanya di Gedung Kota( ataupun” haminte”) di Jalur Kebon Sirih buat melunasi peneng. Ini meyakinkan warga era durasi itu relatif lebih patuh dari zaman- zaman setelahnya,” catat Sabda.

Sebutan peneng ini didapat dari bahasa Belanda penning. Tetapi terdapat pula wilayah yang mengatakan peneng dengan sebutan plombir.

Pembelian peneng ini tiap tahun diiklankan penguasa Jakarta di koran – koran. Dalam promosi di surat kabar Java Bode tertanggal 18 April 1950, Gubernur Jakarta yang dikala itu diucap Orang tua Kota Jakarta, R Soewirjo berikan data kalau sepeda- sepeda wajib dibawa ke Kantor Bendaharawan Kota, di Jalur Kebon Sirih 22. Masing- masing sepeda diharuskan melunasi Rp 1( satu rupiah) buat tiap pembelian peneng.

Mengingat tentang pajak sepeda jaman dahulu, tentu dari kita semua ingin memilikinya lagi walaupun susdah dan mahal akan sepeda itu, namun kalian bisa mengaplikasikan dengan kreativitas lewat barang bekas dan menjadi miniatur berupa sepeda jadul dengan koran bekas, langsung saja baca juga : Kerajinan Tangan Dengan Koran Bekas 2021

2. Peneng ditempelkan di bodi sepeda

Untuk owner yang sudah melunasi pajak sepeda, hingga hendak diserahkan peneng berbentuk lencana. Umumnya wujud serta warna peneng di tiap kota mempunyai perbandingan. Lencana ini rerbuat dari piringan hitam timah pipih yang ditempel di batangan wajah sepeda. Belum lama piringan hitam ini berganti jadi etiket.

3. Pajak sepeda ini dibayarkan setiap tahun

Pajak sepeda yang diucap peneng ini wajib dibayarkan tiap tahun. Orang tua Kota Jakarta Raya Sudiro dalam pemberitahuan di setiap hari De Nieuwsgier bertepatan pada 19 Desember 1956 mengatakan pemasaran peneng sepeda buat tahun 1957 diawali pada 2 Januari 1957.

Harga peneng buat tahun 1957 di area Jakarta sebesar Rp 4. Untuk sepeda kepunyaan anak sekolah diberi bagian separuh harga. Cuma saja anak sekolah yang mau melunasi pajak sepeda ini wajib bawa pesan penjelasan dari kepala sekolah. 

4. Mengendarai sepeda tanpa peneng terkena denda

Peneng ataupun penning dalam bahasa Belanda telah terdapat semenjak era kolonial. Kisahnya dituliskan dalam De Indische courant, 9 Februari 1938. Dikisahkan seseorang wanita yang mengemudikan sepeda yang tidak mempunyai peneng. Wanita ini bagi surat kabar itu terdesak wajib melunasi kompensasi sebesar 1, 5 gulden.

Sehabis era kolonial, warnanya ganjaran senantiasa legal. Orang tua Kota Jakarta Soewirjo melalui pemberitahuan di pesan berita mengecam hendak menahan sepeda yang belum melunasi pajak sepeda tahun 1950 jika terletak di jalur biasa.